Minggu, 15 Juni 2008

refarat pedodontik

KEGAWATDARURATAN MEDIS PASIEN GIGI ANAK DAN PENANGANANNYA
BAB I
PENDAHULUAN


Kegawatdaruratan dapat terjadi di mana saja termasuk dalam praktek kedokteran gigi. Walaupun kebanyakan kegawatdaruratan terjadi pada orang dewasa, tetapi suatu masalah yang serius dapat terjadi pada pasien yang lebih muda. Meskipun kegawatdaruratan pasien anak merupakan hal yang jarang dalam perawatan kedokteran gigi tetapi jika hal ini terjadi maka dapat mengancam nyawa.1,2
Kegawatdaruratan dapat terjadi sehubungan dengan berbagai penyebab. Dokter gigi secara umum harus siap untuk menangani secara menyeluruh dan efektif jika kegawatdaruratan ini terjadi. 2
Unit kegawatdaruratan pediatrik merupakan bagian yang tidak terpisah dengan Departemen Kegawatdaruratan Medik.
Kegawatdaruratan dapat dibagi dalam dua kelompok besar; yaitu kegawatdaruratan medis yang dapat terjadi dalam praktek dokter gigi sehubungan dengan kondisi sistemik seorang pasien, dan kegawatdaruratan dental yang dapat terjadi diluar praktek dokter gigi tetapi membutuhkan penanganan yang segera dari dokter gigi. Kegawatdaruratan dental ini dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu; yang berhubungan dengan suatu trauma, dan non-trauma. Tetapi yang akan dibahas dalam tulisan kali ini adalah mengenai kegawatdaruratan medis pada pasien anak yang dapat terjadi dalam lingkungan praktek dokter gigi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Keadaan gawat darurat yang merupakan suatu keadaan yang dapat terjadi kapan dan dimana saja dalam praktek medis, sebagaimana hal ini juga bukanlah hal yang mustahil untuk ditemui dalam praktek dokter gigi. Kagawatdaruratan ini dapat terjadi pada semua jenjang usia, baik pada orang dewasa maupun pada pasien anak.1,2
Sebagaimana dalam bidang kedokteran umum, dalam praktek dokter gigi, penanganan kegawatdaruratan ini memiliki perbedaan antara pasien anak dengan pasien dewasa. Hal ini sebagaimana yang kita ketahui bahwa pasien anak memiliki pola anatomis dan psikologis yang berbeda dengan orang dewasa, atau seperti yang sering kita dengar dan baca bahwa anak bukanlah miniature dari orang dewasa.

2.a. Kegawatdaruratan Medis pada Pasien Gigi Anak
Kegawatdaruratan medis dapat terjadi dalam praktek kedokteran gigi. Kebanyakan kegawatdaruratan medis berkembang pada saat pasien pada usia dewasa, yaitu sebagai akibat dari rasa cemas atau kontrol nyeri yang tidak adekuat. Kegawatdaruratan yang paling umum terjadi pada pasien gigi dewasa termasuk sinkop, alergi yang tidak mengancam jiwa, episode angina akut, hipotensi postural, seizure, srangan asma akut, dan hiperventilasi.2
Pada pasien anak, keadaan kegawatdruratan yang paling umum terjadi adalah biasanya sehubungan dengan pemberian obat-obatan, yang paling sering adalah anestesi lokal dan/atau penggunaan depresan sistem saraf pusat sebagai sedasi. Beberapa penulis mengakui bahwa skenario yang paling sering terjadi pada keadaan gawat darurat yang sehubungan dengan obat-obatan ini biasanya terjadi pada ; pasien anak yang lebih muda, anak dengan berat badan yang lebih ringan dan menerima perawatan gigi pada beberapa kuadran gigi pada suatu praktek dokter gigi dengan dokter gigi yang lebih muda, kurang berpengalaman, dan bukan dokter gigi anak (contohnya; dokter gigi umum).2
Semua dokter gigi harus siap untuk menangani kegawatdaruratan yang berpotensi mengancam jiwa, apakah itu pada pasien dewasa maupun pasien anak. Ada 4 aset yang penting dalam mempersiapkan kantor praktek dokter gigi dan staf untuk mengenali dan menangani kegawatdaruratan medis secara efektif:2
· Kemampuan untuk melakukan Basic Life Support secara tepat
· Pemberdayaan tim gawat darurat dalam klinik dokter gigi
· Akses terhadap bantuan kegawatdaruratan
· Ketersediaan obat-obatan dan peralatan kegawatdaruratan.

Dalam berbagai kegawatdaruratan pediatrik, ABC (airway, breathing, circulation) harus dilakukan dengan cepat. Pengenalan dan penanganan secara dini pada kegagalan nafas pada anak merupakan suatu hal yang kritis. Penanganan jalan nafas merupakan prioritas utama pada anak yang mengalami kegawatdaruratan medis, atau anak yang mengalami sumbatan jalan nafas. Kegagalan pernafasan merupakan penyebab paling umum terjadinya henti jantung-paru (cardiopulmonary arrest). Jalan nafas pada anak berbeda dibandingkan pada orang dewasa dalam beberapa hal, dimana pada anak semakin mudah terjadinya sumbatan jalan nafas. Bahkan suatu penurunan dalam jumlah yang kecil dari jalan nafas dapat meningkatkan resistensi jalan nafas yang signifikan.2

Basic Life Support (BSL)
Basic Life Support atau resusitasi kardiopulmonari merupakan tahapan yang utama dalam persiapan ditempat praktek dan para staf untuk keberhasilan penanganan kegawatdaruratan medis. BSL praktisi kesehatan didefinisikan sebagai: Posisi, jalan nafas (Airway), Pernafasan (Breathing), Sirkulasi (Circulation), dan Defibrilasi (Defibrilation/Devenitive treatment). 2,3
Pentingnya BLS sebagai persiapan untuk menangani kegawatdaruratan medis pada anak merupakan suatu hal pokok dimana fakta menunjukkan bahwa etiologi utama henti jantung pada pasien anak adalah masalah jalan nafas, biasanya hambatan jalan nafas atau henti nafas (sebagaimana yang biasanya terjadi pada sedasi sadar yang dalam). Jantung anak-anak adalah sehat secara normal. Penyakit arteri koroner biasanya belum ada pada kelompok ini. 2
Langkah yang sangat dasar dari penanganan jalan nafas (head tilt-chin lift) merupakan hal yang sangat penting dalam menyelamatkan hidup seorang anak.

Basic Life Support bagi Anak usia 1-8 tahun1
· Nilai kesadaran dan posisi pasien
· Penilaian dan pembukaan jalan nafas
Head tilt-chin lift (kecuali jika terdapat trauma)
· Menilai dan memastikan pernafasan. Pertolongan pernafasan awal, memberikan dua kali nafas dalam 1 detik per nafas. Lakukan pernafasan dari mulut ke mulut. Selanjutnya, lakukan 20 nafas per menit hanya untuk bantuan nafas. Aktifkan EMS (Emergency Medical System).
· Menilai dan memastikan sirkulasi. Periksa denyut, palpasi arteri karotis. Pada saat penekanan (kompresi), jika denyutan kurang dari 60 dan terdapat perfusi sistemik yang jelek. Kedalaman penekanan adalah 1/3 dari kedalaman kavitas toraks. Rata-rata penekanan adalah 100 kali per menit. Perbandingan antara penekanan dan ventilasi adalah 5:1. lokasi tempat dilakukannya penekanan adalah 1/3 bawah dari sternum, dengan teknik menggunakan tumit satu tangan
· Mengaktifkan EMS setelah 20 siklus (satu menit) penekanan + ventilasi.
· Pemberian oksigen sebanyak 10 L/menit, dan memonitor tanda vital.

Anak-anak itu berbeda dengan orang dewasa, karenanya Malamed SF merekomendasikan bahwa dokter gigi dan stafnya di tempat praktek dimana jumlah yang signifikan dari pasien yang lebih muda berhasil dirawat dengan melengkapi suatu pelatihan pemberian dukungan hidup pada pasien anak (Pediatric Advanced Life Support/PALS). Serupa dengan BLS, PALS menekankan pada teknik pemberian bantuan hidup dasar bagi pasien yang lebih muda, yang melibatkan rumah sakit, lingkungan kedokteran gigi anak, dan penyedia pelayanan pendidikan khusus.2
Selain itu terdapat pula PEDO (Pediatric Emergencies in Dental Office), merupakan pelatihan pendidikan dan klinis dalam kegawatdaruratan medis yang diciptakan untuk staf dalam praktek dokter gigi. 2
2.b.Tim Kegawatdaruratan
Tim kegawatdaruratan dalam praktek dokter gigi terdiri atas 3 orang, masing-masing memiliki tugas khusus sebagaimana yang terlampir pada Tabel 1. seluruh anggota tim kegawatdaruratan sebaiknya dipergilirkan dalam penugasannya. Meskipun penanganan yang tepat dan efektif pada keadaan gawat darurat utamanya merupakan tanggung jawab seorang dokter gigi, penanganan gawat darurat dapat dilakukan oleh orang terlatih dalam pengawasan dokter gigi.2
Tabel 1. Tim kegawatdaruratan dan tanggung jawabnya masing-masing


2.c.Penanganan Dasar
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, penangan dasar untuk seluruh kegawatdaruratan medis mengikuti singkatan PABCD (Positioning, Airway, Breathing, Circulation, dan Defibrilation). Yang pertama kali perlu kita ketahui adalah apakah pasien dalam keadaan sadar atau tidak sadar. Keadaan tidak sadar didefinisikan sebagai kurangnya/tidak adanya respon terhadap rangsangan sensori.2

Posisi
Sebagai penyebab umum kehilangan kesadaran adalah hipotensi, semua pasien yang tidak sadar ditempatkan dalam posisi supinasi dengan kaki yang dielevasikan secara ringan. Posisi ini memberikan peningkatan aliran darah serebral dengan bantuan respirasi yang minimum. Orang yang sadar yang mengalami keadaan gawat darurat medis ditempatkan dalam posisi yang mereka rasa nyaman. 2,3

Jalan Nafas dan Pernafasan (Airway and Breathing)
Pada orang yang tidak sadar, tindakan head tilt-chin lift harus dilakukan diikuti dengan penilaian ventilasi (“look, listen, feel”). Satu hal yang penting untuk diingat adalah, bahwa dengan melihat pergerakan pipi pasien tidaklah menjamin bahwa pasien tersebut benar-benar bernafas (pertukaran udara), tetapi secara sederhana pasien itu sedang berusaha untuk bernafas. Mendengar dan merasakan pertukaran udara dengan menggunakan pipi pemeriksa merupakan indikasi keberhasilan ventilasi.2,3

Head tilt-chin lift
Manuver ini merupakan salah satu manuver terbaik untuk mengatasi obstruksi yang disebabkan oleh lidah karena dapat membuat pembukaan maksimal jalan napas. Teknik ini mungkin akan memanipulasi gerakan leher sehingga tidak disarankan pada penderita dengan kecurigaan patah tulang leher, dan sebagai gantinya, gunakan manuver jaw-thrust.4


Teknik chin lift-head tilt:4
1. Pertama, posisikan pasien dalam keadaan terlentang, letakkan satu tangan di dahi dan letakkan ujung jari tangan yang lain di bawah daerah tulang pada bagian tengah rahang bawah pasien (dagu).
2. Tengadahkan kepala dengan menekan perlahan dahi pasien.
3. Gunakan ujung jari Anda untuk mengangkat dagu dan menyokong rahang bagian bawah. Jangan menekan jaringan lunak di bawah rahang karena dapat menimbulkan obstruksi jalan napas.
4. Usahakan mulut untuk tidak menutup. Untuk mendapatkan pembukaan mulut yang adekuat, Anda dapat menggunakan ibu jari untuk menahan dagu supaya bibir bawah pasien tertarik ke belakang.

Jaw Thrust
Manuver jaw thrust digunakan untuk membuka jalan napas pasien yang tidak sadar dengan kecurigaan trauma pada kepala, leher atau spinal. Karena dengan teknik ini
diharapkan jalan napas dapat terbuka tanpa menyebabkan pergerakan leher dan kepala.4
Teknik jaw thrust:4
1. Pertahankan dengan hati-hati agar posisi kepala, leher dan spinal pasien tetap satu garis.
2. Ambil posisi di atas kepala pasien, letakkan lengan sejajar dengan permukaan pasien berbaring.
3. Perlahan letakkan tangan pada masing-masing sisi rahang bawah pasien, pada sudut rahang di bawah telinga.
4. Stabilkan kepala pasien dengan lengan bawah Anda.
5. Dengan menggunakan jari telunjuk, dorong sudut rahang bawah pasien ke arah atas dan depan.
6. Anda mungkin membutuhkan mendorong ke depan bibir bagian bawah pasien dengan menggunakan ibu jari untuk mempertahankan mulut tetap terbuka.
7. Jangan mendongakkan atau memutar kepala pasien.


Gambar 1. Teknik head tilt chin lift dan jaw thrust

Jika tidak ada usaha aspirasi secara spontan, harus dilakukan pengontrolan ventilasi seefesien mungkin. Dengan menggunakan masker wajah penuh dan oksigen bertekanan positif, pasien yang lebih tua dari 8 tahun diventilasi sebanyak 1 nafas setiap 5 detik, sedangkan 1 nafas per 3 detik degunakan pada bayi atau anak-anak.2
Gambar 2. Teknik mendengar (listen) pernafasan


Gambar 3. Bantuan pernafasan mouth to mouth.


Sirkulasi
Palpasi denyut arteri carotid lebih disukai pada anak usia 1 tahun atau lebih tua dan pada dewasa, dimana denyut brachialis lebih disukai pada bayi dibawah usia 1 tahun. Jika tidak ada denyutan yang teraba, harus dilakukan penekanan pada dada, dan segera memanggil bantuan (EMS).2,3

Gambar 4. Perabaan pulsasi carotid, pulsasi carotid hilang sebanyak 40%.

Gambar 5. Teknik kompresi dada


2.d.Kegawatdaruratan Khusus
2.d.1.Bronkospasme Akut (Serangan Asma)
Salah satu keadaan gawat darurat yang mungkin dijumpai di klinik gigi adalah asma. Asma merupakan suatu keadaan paroksismal dari hiper reaktifitas saluran tracheo-bronchial. Ketika alergen eksternal menyebabkan spasme bronkus yang diperantarai antibodi, kejadian tersebut dikategorikan sebagai asma ekstrinsik, sedangkan asma yang disebabkan oleh faktor-faktor non alergika seperti stress, infeksi saluran pernafasan, uap iritatif atau aktifitas fisik dapat dikategorikan sebagai asma intrinsik. Asma intrinsik umum terjadi pada orang dewasa sedangkan asma ekstrinsik umum terjadi pada anak-anak. 5
Serangan asma yang terjadi pada praktek kedokteran gigi dapat dihindari dengan mengetahui secara lengkap riwayat kesehatan pasien. Sangat penting untuk menanyakan kepada pasien beberapa hal seperti frekuensi serangan serta derajat keparahan ketika serangan asma terjadi dan apa yang sering memicu serangan tersebut. Petunjuk lain yang dapat digunakan untuk mengetahui keparahan penyakit tersebut adalah dengan menanyakan berapa jumlah obat serta jenis obat yang diminum pasien, demikian juga dengan mengetahui seberapa sering pasien tersebut mendapat perawatan gawat darurat di rumah sakit serta riwayat rawat inap pasien akibat serangan asma. Apabila pasien mendapat perawatan dengan inhaler bronkodilator seperti albuterol atau metaproterenol dan digunakan apabila diperlukan, dapat diindikasikan bahwa pasien menderita asma yang ringan. Pada kasus yang lebih berat pasien dirawat dengan pemberian obat-obatan profilaksis seperti kortikosteroid, cromolyn, beta-2 agonists dan leukotrien modifiers.5
Gejala yang biasa terjadi diantaranya adalah nafas yang berbunyi, terutama pada saat ekspirasi (mengik), sesak nafas, batuk-batuk dan dyspnea. Pasien biasanya akan berusaha duduk untuk mencoba mengambil nafas. Gejala yang lebih berat diantaranya adalah cemas, detak jantung cepat,sianosis pada jaringan di bawah kuku dan penggunaan otot-otot aksesorius pernafasan seperti muskulus SCM, muskulus trapezius dan muskulus abdominalis.5
Penanganan
Apabila terjadi gejala-gejala asma, maka:5
- menghentikan segala jenis perawatan dental yang sedang dilakukan,
- menempatkan pasien pada posisi yang paling nyaman (biasanya menegakkan tubuh pasien dengan kedua lengan terlentang),
- pemberian inhaler bronkodilator serta diikuti dengan pemberian oksigen.

Jika gejala tidak mereda dan cenderung memburuk:
- segera dilakukan tindakan Sistem Gawat darurat Medis (SGM)/Medical Emergency System (MES)
- pemberian epinephrine (0,3 mg)
- pemberian inhaler yang dapat diulang setiap dua menit dan epinephrine setiap 10 menit
Apabila serangan asma diakibatkan oleh alergen eksogen dapat diberikan hidrokortison (100 mg) intramuskular atau intravena.
Dari segi teknis untuk mengurangi kecemasan akibat perawatan yang diberikan, dapat dilakukan kontrol nyeri dan teknik sedasi. Dengan demikian pemicu serangan asma yang diakibatkan oleh faktor intrinsik dapat dikurangi. Dokter gigi hendaknya juga memastikan apakah pasien sudah meminum obat asma sebelum tindakan perawatan gigi dilakukan. Pasien sebaiknya juga sudah menyiapkan obat pribadi yang khusus digunakan apabila sewaktu-waktu terjadi serangan asma. Apabila pasien sering mengalami serangan asma, maka penggunaan inhaler profilaksis hendaknya dipertimbangkan untuk dilakukan beberapa saat sebelum dilakukan tindakan perawatan gigi.5
Pengenalan: Pasien sadar kepayahan nafas akut, memperlihatkan adanya wheezing, retraksi supraklavikula dan interkosta.2
Posisi: Posisi yang nyaman, biasanya tegak lurus.
A, B, C: Dianggap adekuat, karena pasien sadar dan dapat berbicara.
D: (1) Pemberian bronkodilator
(2) Pemberian oksigen, baik dengan masker wajah atau kanula hidung sebanyak 3-5 liter per menit
(3) Memanggil EMS, jika orangtua pasien meminta atau jika episode bronkospasme tidak berakhir setelah pemberian dua dosis bronkodilator.

2.d.2.“Grand Mal” Seizure
Pengenalan : Periode kekakuan otot (sekitar 20 detik) diikuti dengan pertukaran kontraksi dan relaksasi otot paling kurangnya sekitar 1-2 menit.2
Posisi : Posisi supinasi
A, B, C : Dinilai adekuat (rangsangan pernafasan dan kardiovaskular biasanya terjadi selama seizure)
D : (1) Lindungi pasien dari luka. Jaga pasien di atas kursi unit; pegang dengan lembut tangan dan tungkai, cegah pergerakan yang tidak terkontrol.
(2) Jika ada orangtua atau penjaga pasien, maka bawa mereka ke ruang perawatan untuk membantu penangan/penilaian terhadap pasien.
(3) Memanggil EMS, jika orangtua atau penjaganya menyarankan hal itu, atau jika seizure terus berlanjut lebih dari 2 menit.
Perlu diingat untuk tidak menempatkan apapun diantara gigi orang yang mengalami konvulsi. Kebanyakan kecacatan dan kematian sehubungan dengan seizure terjadi dalam periode postseizure, oleh karena itu pihak penolong harus betul-betul memperhatikan P, A, B, C dari pasien.2

2.d.3.Overdosis Sedasi
Pengenalan: Kurangnya/tidak adanya respon terhadap rangsangan sensoris
P : Posisi supinasi
A, B, C : Dinilai dan ditangani sesuai kebutuhan. Dalam kebanyakan kasus, A sendiri dibutuhkan: dimana A dan B akan dibutuhkan dalam beberapa situasi, C umumnya akan ada jika A dan B dinilai dan ditangani secara tepat.2
D: (1) Monitor pasien, dengan menggunakan oksimeter denyutan (dan tekanan darah dan denyut jantung)
(2) Rangsang pasien secara periodic, baik itu secara verbal dan/atau tekanan pada otot trapezius,
(3) Terapi antidotum: jika obat-obatan sedative diberikan secara parenteral, dan terdapat akses secara intravena, berikan flumezenil IV dalam dosis 0,2 mg (2 mL) selama 15 detik dan tunggu hingga 45 detik untuk mengevaluasi pemulihan ketika pemberian benzodiazepin. Ulangi setiap menit hingga terjadi pemulihan hingga dicapai dosis 1,0 mg. nirat nalokson IV dengan dosis 0,1 mg (0,25 mL) per menit hingga dosis 1,0 mg jika diberikan suatu opioid. Nalokson dapat diberikan secara intramuscular dalam dosis 0,01 mg/kg setiap 2-3 menit hingga pasien memberikan respon.2
Perlu diingat bahwa terapi antidotum tertentu mungkin tidak efektif jika diberikan secara oral pada penekanan system saraf pusat, dan terapi antidotum sebaiknya diberikan secara intravena jika memungkinkan.2

2.d.4.Overdosis anestetikum lokal
Pengenalan : seizure atau keadaan tidak sadar dapat terjadi 5 – 40 menit setelah pemberian anestetik lokal.2
P : Posisi supinasi
A, B, C : Dinilai dan diberikan sesuai kebutuhan.
D : Mengikuti protokol seperti pada seizure

Obat-obatan yang Sering Digunakan dalam Kegawatdaruratan Pasien Anak.1
Epinephrine:untuk henti denyut : 0.01 mg/kg setiap 3-5 menit IV. Dosis pemberian selanjutnya 0.1 mg/kg.Untuk bradikardi: 0.01 mg/kg IV. Dosis pemberian selanjutnya 0.1 mg/kg.Untuk anafilaxis: 0.01 mg/kg IM, SQ, IV. Diulang setiap 15 menit. Jika perlu.
Atropine: Diberikan setelah pemberian epinephrine. Berikan atropine 0.02 mg/kg IV.
Lidocaine: 1.0 mg/kg dengan dorongan yang cepat secara IV.
Naloxone: 0.1 mg/kg IV/IM/SQ untuk mengurangi toksisitas narkotik.
Flumazenil: 0.02 mg/kg IV untuk mengurangi oksisitas benzodiazepin.
Antihistamine: I.M. Benadryl 1 mg/kg, hingga maksimal 75 mg.
Kortikosteroid: Krisis adrenal. Prednisolone 1 mg/kg/hari IV. Atau Decadron 0.3 mg/kg.
Nitroglycerin: satu tablet sublingual setiap 5 menit. Atau semprotan 1 detik diulang setiap 5 menit. Untuk angina.
Bronchial dilator: Mengatasi bronkospasme dengan albuterol 0.5% 2 tiupan, dari inhaler.
Antiemetic: Hydroxyzine pamoate 25 mg oral suspension preop; atau berikan hydroxizine 1.1 mg/kg suntikan IM.
Anectine: 4.0 mg/kg IM. atau 1 mg/kg IV. Neuromuscular blocking agent untuk laryngospasm. Durasi 10 menit.
50% Dextrose: 1-2 ml/kg. untuk hipoglikemi. Maximum 25cc pada anak.

Peralatan Kegawatdaruratan Pasian Anak yang sebaiknya Tersedia1
Kombinasi masker berkatup longgar untuk pasien pediatrik dan dewasa, masing-masing dengan katup lepasan yang dapat dipasang. Berbagai jenis masker pediatrik dan dewasa untuk membantu ventilasi.
Alat suction – dengan bantuan baik secara manual maupun dengan tenaga listrik.
Tip dan selang/kateter suction – Yankauer, 8, 10, 14 F.
Oropharyngeal airways – ukuran bayi,anak, remaja, dan dewasa.
Peralatan intubasi – pegangan laryngoskop dengan baterai, bohlam cadangan, pisau Miller (lurus) 1-2-3, dan tube endotracheal tanpa manset ukuran 3.0 – 8.0 .ukuran tube endotracheal sebaiknya: mm i.d. = UMUR/4 + 4
Stylets (kecil dan besar) – yang sebaiknya tidak pernah berada melewati ujung distal dari tube endotracheal.
Perban adhesive untuk membantu tube endotracheal.
Seperangkat jarum cricothyrotomy.
Jarum intraosseous - 15 or 18 guage.
Kateter IV, pendek, diatas jarum 18, 20, 22, 24 – guage.
Jarum Butterfly – 23 guage.
Papan IV, perban, tampon alkohol, touniquet.
Pediatric drip chambers and tubing.
Cairan Isotonik (normal saline atau lactated Ringers’s solution).
Manset tekanan darah otomatis – bayi, anak, dan dewasa.
Sphygmomanometer (manual) – anak dan dewasa.
Tube nasogastrik – 8, 10, 14 F.
Stetoskop.

Gambar 6. Contoh emergency kit yang sebaiknya dimiliki dalam lingkungan praktek dokter gigi














BAB III
KESIMPULAN


Keadaan gawat darurat dapat terjadi kapan dan dimana saja, termasuk dalam praktek dokter gigi. Kegawatdaruratan ini juga dapat terjadi pada siapa saja, baik pada pasien dewasa maupun anak-anak. Kegawatdaruratan yang terjadi dapat berupa kegawatdaruratan medis ataupun kegawatdaruratan dental.
Sebagai seorang dokter gigi, kita harus memiliki ilmu dan keterampilan dalam menghadapi keadaan gawat darurat tersebut. Pada pasien anak, keadaan kegawatdruratan yang paling umum terjadi adalah biasanya sehubungan dengan pemberian obat-obatan, yang paling sering adalah anestesi lokal dan/atau penggunaan depresan sistem saraf pusat sebagai sedasi, selain itu juga disebabkan oleh adanya riwayat penyakit sistemik dari anak tersebut. Sebelum melakukan perawatan, maka seorang dokter gigi harus bias mendapatkan informasi riwayat kesehatan pasien tersebut, sehingga dokter gigi dapat memberikan perawatan yang sesuai dan bertindak hati-hati terhadap adanya kemungkinan dari kondisi sistemik pasien tersebut.
Tindakan yang paling sering dan harus diketahui oleh para praktisi kesehatan adalah Basic Life Support (BSL), memberdayakan tim kegawatdaruratan dalam praktek dokter gigi, akses terhadap bantuan kegawatdaruratan, dan ketersediaan obat-obatan dan peralatan yang diperlukan.



DAFTAR PUSTAKA

Frush, K. Cinoman, M. Bailey, B. Hohenhaus, S. Management of Pediatric emergencies in dental office. Available at: http://dentalsource.org/pediatricdentalhealth.htm. Accessed: Mei, 1.2008.

Malamed, SF. Emergency medicine in pediatric dentistry: Preparation and management. Available at: http://cdajournal.org/emergency/malamed.pdf. Accessed: May, 1. 2008.

3. Hales, RT. Patient evaluation and medical history. In: Manual of minor oral surgery for the general dentistry. Edited by: Koerner, KR. Iowa: Blackwell Munksgraad; 2006. p:14-8.
Mengantisipasi kegawatdaruratan medik dental 2. Available at: http://www.dentisia.com/liputan/gawatdarurat.medik. Accessed: Mei, 8. 2008.

5. Prosedur tetap respon medis akut pada fase pra rumah sakit. Available at: http://protap_respon_medis_akut.pdf. Accessed: Mei, 8. 2008.



1 komentar:

weetha_dr6161 mengatakan...

ajarin pi Na' bikin ini........^_^